--> Zahrul Share: Coretanku | Deskripsi Singkat Blog di Sini
Showing posts with label Coretanku. Show all posts
Showing posts with label Coretanku. Show all posts

Wednesday, July 3, 2019

HATI YANG BARU

HATI YANG BARU


Peringatan: yang menulis cerita ini alias si pemilik blog nggak paham amat soal cinta, jadi moon maap kalau ada yang aneh dalam cerita ini.
Silahkan menikmati😁


HATI YANG BARU

Via.we heart it

Lima tahun berlalu, tapi tak cukup menghapus semua, aku masih tak bisa melupakannya, masih tak bisa membuka hatiku untuk orang lain, untuk suamiku sendiri.

Lima tahun yang lalu aku terpaksa melepaskan cintaku pada Doni karena ibu tidak setuju. Ia memintaku menikah dengan orang lain yang bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku tidak bisa menolak permintaan ibu, beliau sudah tua dan sakit sakitan. Waktu itu aku merasa sakit sekali, aku sempat berpikir untuk kabur atau bunuh diri, tapi aku terlalu takut. Aku hanya bisa menangis sepanjang malam sampai hari pernikahan itu terjadi.

Sebenarnya suamiku sekarang, mas Herman, adalah pria yang baik, ia begitu menyayangiku, tidak pernah memaksa atau melarangku. Apapun yang ingin kulakukan dia selalu mendukungku, tapi tetap saja itu tak cukup untuk menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Aku masih mencintai Doni, masih terikat erat dengannya. Meskipun sekarang aku sudah punya anak, aku tetap tak bisa.

Perasaan bersalah...?

Tentu saja aku merasakanya, setiap hari aku merasakanya, tapi tak bisa kupungkiri juga bahwa selama 5 tahun ini aku memendam kemarahanku, hanyut dengan keegoisanku, dan tak pernah benar-benar tulus menjalani hidup dengan mas Herman, aku selalu mengacuhkannya.
Bagiku tugasku sebagai seorang istri hanya menyiapkan makan untuknya, aku tidak peduli jika ia mengajakku ke suatu acara atau pergi berlibur, aku tahu aku salah, tapi semua itu hanya mengingatkanku bahwa aku sudah tidak bersama Doni, bahwa aku sudah berbagi hidup dengan orang lain yang tidak aku cintai.

Begitu juga dengan Andini, buah pernikahan kami. Sejak ia lahir pembantuku yang mengurusnya tidak pernah sekalipun aku memberinya ASI, menyuapinya makan, menidurkanya, hanya sekali dua kali aku menggendongnya itu pun dengan menggerutu. Yach... begitulah 5 tahun berlalu.

  ''Rosa, aku berangkat dulu.'' Ucap mas Herman, aku mencium tangannya, tidak ada kecupan di dahi atau acara membereskan dasi karena memang aku tak menginginkannya.

  "Andini masih tidur?" tanyanya
  "Iya."
  "Dia pasti lelah, dia aktif sekali." Mas Herman bicara dengan wajah berseri-seri. Aku tahu dia sangat dekat dengan Andini, jauh sekali jika dibandingkan denganku.

  "Sudah jam setengah 7" Aku menyelanya, mas Herman berhenti tampak tertegun sesaat.
Tapi seperti sifatnya sejak dulu, ia lekas menguasai diri.

  "Ya, sudah. Aku berangkat dulu."
Mas herman tersenyum lalu segera menaiki mobilnya. Aku terpaku sesaat di depan rumah, menatap mobil hitamnya yang semakin menjauh dan hilang. Sejujurnya aku begitu merasa jahat pada mas Herman. Apa salahnya padaku...? Dia tak pernah punya salah, dia pria yang baik dan bertanggung jawab.


Sejak pertama kali bertemu dengannya, mas Herman sudah menunjukan sikap sopan dan ramahnya padaku. Dia bahkan sempat bertanya sebelum rencana pernikahan itu benar-benar terjadi,
Apa aku mau jadi istrinya?
Waktu itu aku tak menjawab apapun, aku masih terlalu marah dan kecewa.

  "Rosa, aku tak mau menyiksamu, jika kau memang tak menginginkan pernikahan ini aku akan bicara pada ibumu. Aku tak ingin memaksamu, aku yakin ibumu akan mengerti."
Perkataannya waktu itulah yang membuat hatiku treyuh, aku menatapnya lama dan langsung menemukan ketulusan dalam matanya.

Ibu tidak salah memilihkan jodoh untukku, Mas Herman juga tidak salah karena menerimanya.

 Kurasa, akulah yang salah....

Kemarin malam ketika ia baru pulang kerja, seperti biasa aku sudah memejamkan mata di kamar, berpura-pura tidur. Aku melakukan itu sejak awal pernikahan kami, untuk menghindari hubungan fisik, aku tidak mau kejadian malam itu terulang lagi. Lalu tiba-tiba aku mendengarnya berjalan ke arahku, mataku meliriknya sedikit, ia sedang berdiri di samping ranjang, masih memakai seragam kerja. Aku tetap memejamkan mataku dan berharap mas Herman cepat pergi, dan yang terjadi di luar dugaanku.

Mas herman menunduk dan dengan lembut mengecup keningku. Itu yang membuatku merasa semakin jahat, karena aku tahu mas Herman begitu tulus mencintaiku, dan aku tak bisa membalasnya.

Gerimis masih berjatuhan sisa dari hujan semalam. Aku segera masuk ke dalam dan mengambil tasku. Pagi ini aku ada acara dengan teman-teman, semacam reunian. Sudah lama tidak bertemu, aku kangen dengan mereka.

  ''Bik, aku mau pergi dulu jaga Andini ya.''
  ''Baik nyonya.''
  ''Mau ke mana Rosa...?'' Tanya ibu yang tiba-tiba muncul, sudah 5 tahun ini ibu memakai kursi roda, karena itulah beliau tinggal denganku.

  ''keluar bu, ada acara sama temen.'' Aku menghampirinya dan mencium punggung tangannya.

  ''Apa nggak bisa di tunda, kasihan anakmu ditinggal terus.''

  ''Kan ada bibik, Ibuk juga kan bisa main sama Andini. Udah ah, buk, Rosa buru buru nih.'' Aku melenggang keluar, tahu di belakangku ibu sedang menghela nafas kecewa.

Aku melintasi gerimis pagi itu dengan mobil hitam kesayanganku.
Biarpun pagi ini gerimis , jalannan di Jakarta tetap saja macet. Mobil mobil berjajar seperti ribuan semut, memenuhi tiap ruas jalan yang ada, aku menggerutu di belakang kemudi berulang kali menekan klakson, harusnya aku sudah sampai 15 menit yang lalu.

  ''ting...'' Hp ku berbunyi, ada pesan masuk. Dari Anita.

    buruan Ros,udah di mulai nih acaranya,di sini ada Doni lho...

Doni?

Baru membaca namanya saja jantungku sudah berdebar tidak karuan, ternyata aku memang masih mencintainya. Ingatanku melayang pada masa masa 5 tahun yang lalu, saat aku dan Doni masih bersama, menjalin cinta, menikmati masa kuliah bersama, tapi semuanya selesai. Aku menikah, tapi bukan dengan Doni.

Tepat jam 08.30 pagi aku menghentikan mobilku di depan rumah Anita, rumah besar dengan banyak bunga itu tampak berbeda pagi ini. Orang-orang hilir mudik di sana menikmati makanan atau minuman yang tersedia. Aku turun dari mobilku berjalan menghampiri Anita dan beberapa teman lainya.

  ''Wah, Rosa....'' Anita memelukku lembut, cipika dan cipiki seperti anak SMA.

  ''Makin cantik aja nih...'' pujinya padaku.

  ''Iya, kayaknya hidup bahagia nih...'' ucap Meta, aku hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka. Pandanganku menyapu
seluruh area pesta. Di mana dia...?

Akhirnya aku menemukan sosoknya di sana, sedang mengobrol bersama beberapa orang. Doni. Apa dia masih mencintaiku...?

  "Lagi liatin apa sich?" Anita mengikuti arah mataku dan kuyakin ia tahu apa yang kuperhatikan.

  "Eh, Ros. Kamu masih suka sama dia, kamu udah nikah lho dan dia... kamu kan nggak tahu dia udah punya gandengan apa belum."

Aku memikirkan kalimat Anita sejenak, tapi ingatanku mengulang hari itu.

  "Rosa, aku tahu mungkin kata-kataku kedengaran klise, tapi aku jujur sampai kapanpun aku nggak akan bisa lupain kamu."

Jika aku begitu sulit melupakan Doni, kurasa harusnya dia juga sama.

  "Aku mau menemuinya."
Aku berjalan mendekatinya, tak menggubris larangan Anita, berniat mencari tahu sekaligus melepas kerinduanku selama 5 tahun padanya. Ia masih tidak berubah, masih saja tampan, aku bisa melihatnya dari kejauhan membuat rinduku semakin tak tertahankan. Tinggal beberapa meter lagi aku akan melihatnya dengan jelas.
Tiba tiba...

  "Doni!"

Doni menoleh, bibirnya tersenyum hangat.
Prempuan itu mendekati Doni, menggayut manja di pinggangnya. Siapa perempuan itu...? mendadak aku merasa marah, berniat melabrak prempuan itu, tapi kuurungkan niatku.

Siapa aku...?

  ''Istriku.'' Ucap Doni pada temannya. Aku terpaku di tempatku.

Rupanya selama ini Doni sudah menikah, dia sudah melupakannku. Kenapa...? Kenapa...? Aku tidak tahu. Aku buru-buru meninggalkan tempat itu, pulang tanpa berpamitan pada Anita, menangis sepanjang perjalanan. Tidak pernah terpikir sebelumnya olehku Doni sudah menikah, atau aku yang bodoh karena tak pernah memikirkannya, terlalu berharap pada masa lalu sampai aku lupa bahwa 5 tahun bukan waktu yang sebentar. Gerimis kembali berjatuhan menemaniku sepanjang perjalanan pulang, makin lama makin deras aku menjalankan mobilku dengan cepat. Ingin buru-buru sampai di rumah, melepas kesedihanku dengan tidur sepanjang hari.

Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar, mengunci pintu dan merebahkan diri di ranjang, menangis tersedu sedu.


Aku membuka mata perlahan, badanku terasa capek sekali. Apa aku demam...? Dngan terhuyung aku berjalan keluar kamar, ada suara-suara tawa di ruang tamu. Apa itu mas Herman, Andini. Aku berjalan keruang tamu.

  ''kue... kue... siapa mau beli kue.'' Suara kecil itu melengking di seluruh rumah, menggema di telingaku, entah mengapa suara itu membuatku merindukan sesuatu. Andini... aku memperhatikannya bermain, tertawa bersama mas herman, ibuk, juga bibik. Kaki-kaki kecilnya berjalan mengelilingi ruang tamu, tampak menggemaskan sekali. kenapa aku tak pernah memperhatikannya?

Andini, anakku. Mataku mulai berkabut, bulir-bulir air mengalir di pipiku perasaan sesal itu menyeruak. Timbul setelah sekian tahun aku tak pernah memperhatikannya.

  ''Bunda..'' Andini memanggilku yang masih terpaku di puncak tangga, berhenti berlari-lari. Semua mata di ruang tamu tertuju padaku. Aku berjalan menuruni tangga, mendekati Andini, memeluknya erat. Pelukan pertama setelah 3 tahun usianya. Kutumpahkan semua rindu yang datang tiba-tiba. Bagaimana mungkin aku tidak pernah memperhatikannya, mendengarnya bicara untuk pertama kali, berjalan untuk pertama kali, kenapa aku tak pernah memperhatikannya.

Putri kecilku.... dari mana ia belajar memanggilku bunda? Aku menangis tersedu-sedu sesenggukan di bahu Andini.

  ''Bunda, kenapa nangis...?'' Ya Allah bahkan ia tak mau aku menangis, padahal selama ini aku selalu meningglkannya saat ia menangis. Airmataku semakin deras mengalir, bibirku tidak sanggup mengucapkan apapun selain lenganku yang terus memeluknya. Sebuah tangan hangat menyentuh bahuku dengan lembut, aku menoleh.
Mas Herman, ia tersenyum padaku, seolah menyemangatiku dalam senyumnya, ia bahkan masih memakai baju kantornya. Salahku karena mengunci pintu kamar tadi pagi. Aku menangis tersedu-sedu lagi. Aku juga merasa bersalah pada mas Herman. Dia suami yang baik, tapi kenapa aku menyia-nyiakannya. Maafkan aku ya Allah, mulai sekarang aku berjanji tak akan mengacuhkan mereka, aku akan mencintai mereka seperti mereka mencintaiku, akan kumulai semuanya dari awal, akan kubuka hatiku, hati yang baru, untuk mereka. Mas herman dan Andini.

Wah... Ini cerita pertama yang saya bikin dengan serius dulu... Dulu sekali pas pengen kirim cerpen ke penerbit, tapi, yah, nggak pernah lolos....

Ora popo...
Nikmati aja ya.

See you👋😁

Thursday, June 27, 2019

Jadi pengamat film "taare zameen par...."

Jadi pengamat film "taare zameen par...."

Jadi pengamat film "taare zameen par...."

Pertama kalinya saya mau me review sebuah film...
Kenapa?
Hemmm.. Karena film ini tu bener-bener saya suka... Saya suka...

Sebuah film yang sukses bikin hati nurani saya berteriak, nangis kejer sampai mata merah, perih, pedih,😖 (lebay mode on😒)

Pokoknya ini film the best banget👍

Saya udah nonton film ini sebelumnya, yang pertama di televisi dan waktu itu saya juga mewek plus jatuh hati.
Karena penasaran dan  kangen sama film ini saya download lagi dan nonton lagi di laptop, pasang head set, tutup jendela, matiin lampu (biar berasa kek bioskop)

Sebenernya film ini udah agak lama, dirilis pada 21 desember 2007 (masih kelas 3 SD saya)

Film yang dimainkan oleh darsheel safary  dan aamir khan ini
Bercerita tentang seorang anak lelaki bernama ishaan awasthi yang menderita disleksia.
Yaitu suatu kondisi dimana seorang anak kesulitan membaca dan menulis atau membaca simbol-simbol.

Ishaan hidup di tengah keluarga dan lingkungan yang masih sangat asing dengan kondisi semacam disleksia
Keluarga ishaan sendiri bisa dibilang cukup disiplin... Ah apa ya bahasanya...
Menjunjung tinggi martabat mungkin.
Ayahnya bekerja sebagai.. Sebagai apa ya? (Duh nggak ngeh juga saya, ngantor pokoknya)

Mon maap ya ..

Dan memiliki sikap yang tegas pada keluarga, kakak ishaan satu-satunya, Yohan,...
Juga memiliki prestasi yang bagus dan selalu aktif dalam kegiatan sekolah.

Karena menderita disleksia Ishaan nggak kayak teman-teman sebanyanya. Ia nggak bisa membaca dan menulis dengan benar, dan nilai pelajarannya selalu merah, intinya dia payah dalam segal hal. Karena itu ishaan sering ditertawakan teman-temannya atau dimarahi guru karena tidak memperhatikan pelajaran.

Ishaan juga sering berbuat usil sehingga membuat orangtuanya kesal, ada banyak humor juga ketika ishaan berbuat onar.


Tapi ishaan ini nggak peduli, ia sangat ceria,  bebas, dan melakukan apa saja yang ia suka.
Yang paling luar biasa dan bikin saya kagum. Ishaan ini punya imajinasi yang luar biasa, kekurangannya itu membuatnya melihat dunia dengan cara yang berbeda, menyenangkan dan berwarna.
Kita akan disuguhkan dengan imajinasi ishaan yang lucu dan keren.
Kalian akan tahu kalau sudah menontonnya.

Tidak peduli apa kata orang disekitarnya, ishaan tetap tertawa, melukis dan membuat banyak mainan unik.

Namun, sebuah kejadian membuat ishaan harus pindah sekolah dan tinggal di asrama sendiri.(kejadian apa? Ha...ha.. Nggak mau spoiler...)

Di sinilah hati saya mulai tepelintir (aih bahasanya...)
 Saya mulai nangis tanpa henti.
Ishaan yang biasanya ceria perlahan menjadi anak yang pendiam karena merasa tidak dianggap oleh keluarganya, merasa dibuang. Saya jadi paham banget sama ishaan. Seolah saya jadi ishaan, sendiri di tempat asing tanpa ada yang paham dengan perasaan saya, rindu keluarga tapi tidak bisa berbuat apa-apa
Nyesek banget😭


Dia jadi sering menangis diam-diam di kamar mandi, makan sendirian, melamun dan menyendiri.
 Dan karena nggak ada yang tahu dengan kondisi ishaan ini (disleksia yang dideritanya), bahkan ishaan sendiri juga nggak tahu, ia sering dihukum guru, bahkan sampai dipukul dan ditertawakan seisi kelas.

Ya Allah nggak tega banget saya lihatnya... Jadi marah juga sama orang-orang yang bisanya cuma menghakimi tanpa mau cari tahu penyebabnya.


Tekanan yang makin banyak ini benar-benar mengubur ishaan. Ishaan yang ceria seakan nggak pernah ada. Cuma ada ishaan yang diam dan kesepian, depresi.

Kehidupannya diputar 180 derajat.

Lalu apa peran Aamir khan di sini....?

Saya mau berterima kasih banget sama kang amir khan yang ganteng ini karena aktingnya sukses bikin saya nangis bahagia di sini.

Malaikatnya ishaan....
Suka banget sama karakternya abang amir khan yang baik dan bikin saya tersepona (setingkat diatas terpesona😁).

Kalian.. Harus nonton. Film ini recomended banget.

Mau cerita banyak, tapi ntar jadi spoiler....
Nonton aja sendiri lah...

Dari film ini saya jadi banyak berpikir :
Bahwa  di balik kekurangan seseorang pasti ada kelebihan yang Allah selipkan. Terlalu egois rasanya kalau menghakimi seseorang karena ketidakbisaanya pada suatu hal. Dan jangan menilai seseorang secara singkat, dia yang terlihat berantakan dan bodoh bisa jadi lebih baik dari pada kita. Dan untuk para orangtua, jangan suka memaksakan kehendak pada anak, biarkan mereka bermain dan menelusuri hoby mereka, tetap bimbing mereka dengan cara yang lembut dan perhatikan setiap perkembangan mereka (udah cocok jadi mama milenial nih saya... Wkwk😂😂....)


Film ini menyuguhkan kita sudut pandang yang mengesankan, hidup para anak-anak disabilitas juga diceritakan sedikit di sini, saya nangis bombay terus kalau inget.

Dan soundtrack laugunya itu low...
Sukaaaa banget.

Terutama lagu yabg berjudul "maa"

Arti dari liriknya itu, sedih banget.

Mataku kosong
Airmata pun telah habis
Diam mengisi hatiku
Aku merasa sakit yang amat sangat
Aku mati rasa
Mereka semua telah meninggalkan aku
Aku kosong
Kau tahu segalanya kan, ma...??



Pokoknya ini film "super good👍👍👍"

Coba nonton dan rasakan sensasi termehek-meheknya. Atau mau nonton sama saya terus nangis bareng..
Wah seru juga, bisa pukul-oukullan kalau ada adegan yang bikin marah.

Ha..ha...
Sekian review film pertam ini ya...

Kalau penasaran bisa cari di youtube "taare zameen par movie sub indo"

See you.....




Thursday, June 20, 2019

Jangan asal bicara

Jangan asal bicara

Jangan asal bicara

Me & Ana

  "Mben bodo, duek THR mesti digae benakne sepeda, hadeh...."

Translate :
  "Tiap lebaran uang THR selalu buat benerin motor, hadeh..."

Kira-kira itu kalimat yang saya ucapkan tgl 2 Juni lalu, pukul 9 pagi sebelum pamit orangtua mau ke madiun kota buat benerin laptop yang rusak.

"Ucapan adalah doa"

jangan ngomong sembarangan kalau nggak mau diamini sama malaikat.
Inget itu sob.. Inget!!!

Kenapa saya bilang gitu?
Karena, sekitar 7 jam setelah saya ngedumel gitu saya masuk rumah sakit.

Eh....?😱
Motor nginep di kantor polisi😱
Eh....

Menghela nafas dulu.

Walaupun ini pengalaman buruk tapi ada banyak pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian ini.  Seperti gambar di atas saya kecelakaan sama temen saya. Rencananya hari itu kami mau main ke madiun kota, (mau lebaran, waktunya shoping...shoping...😁😁)
sekalian lah saya benerin laptop. Alhamdulilah masih ada garansinya.... He..he...

Dari beberapa kali kecelakaan yang saya alami, ini yang paling buruk. Kepala saya nyosor aspal sampai benjol segede bakpao, mata saya bengkak, muka sebelah kiri udah nggak berbentuk... Karena bengkak semua, udah gitu siku sebelah kiri dislokasi, nasib temen saya pun nggak jauh beda.

Untungnya saya jatuh dengan keadaan terhalang belanjaan sekresek penuh, belanjaan yang tadinya sempet jadi objek kemaraham karena bingung gimana bawanya (padahal belanjaan sendiri😒)
Saya waktu itu dibonceng temen saya yang cantik itu.


Padahal dari rumah, bapak udah wanti-wanti, udah ngelarang buat pergi ke madiun.
  "Nggak usah ke madiun, kalau mau lebaran gini ramai, ntar aja habis lebaran."
  "Sama aja pak, lagian, ntar tempat servisnya keburu tutup, mumpung masih ada garansinya ini, ya...ya..ya..."

Nah itu tuh, dibilangin orang tua nggak manut, nggak nurut, pakai acara lepas jurus seribu alasan segala ....

Padahal orangtua bilang gitu karena udah punya firasat buruk.

Dan alhasil kalimat pertama saya di atas menjadi kenyaatan, malah bukan cuma buat benerin sepeda, benerin badan juga iya.
Masih kebayang gimana sakitnya waktu benerin tangan di tukang pijet, udah kayak orang mau lahiran, sakitnya itu low...😭😭

Jangan sampai kejadian lagi. Kapok saya...
Selain itu, tangan saya pun juga perlu waktu pemulihan yang lama, sampai saya nulis ini, tangan juga belum pulih benar, pelipis masih bengkak, mata juga masih kayak mata panda. (Padahal udah waktunya masuk kerja...) dan saya pun juga libur 9 hari lebih lama dari temen-temen di pabrik.

Oh, masih bisa selfi

Saya sempet kesel, jengkel sendiri karena uang tabungan yang rencananya mau saya pakai buat perkembangan blog tercinta ini harus dikuras untuk berobat dan lain sebagainya....
Hua....😭😭


Padahal sudah direncanakan, tapi...
  "Kita hanya berencana, Allah yang menentukan hasilnya"

Pasti ada hikmah di balik ini semua.

Untungnya orangtua saya sabar banget, menghibur saya, dan ngerawat saya dengan tulus.

  "Uang bisa dicari nak, yang terpenting sekarang kamu sembuh, masalah kerja bisa dipikir nanti..." kata-kata basi yang jadi ajaib waktu yang ngucap orangtua.

Mereka juga jadi kurang tidur karena saya selalu mimpi buruk kalau lagi sakit.

Itu loh, ada yang tahu ketindihan atau bahasa medisnya sleep paralysis. (Bener nggak nulisnya...?)

Dan yang bikin sedih lagi bapak saya ikutan sakit selama beberapa hari. Maapkan anakmu pak...😭😭😭

Pokoknya saya janji akan kerja lebih keras supaya bisa membalas kebaikan kedua orangtua tercinta, tersayang saya. Dan nggak akan mengabaikan kata-kata mereka.

Semangat ngeblog lagi, meskipun rencana saya gagal.

Dan... Nggak mau asal bicara lagi, takut kejadian beneran

Inget sob..  Jangan asal bicara!!

Sok cantik😂

Kalau nggak mau kayak saya😭😭


See you...







Sunday, April 28, 2019

BUJO

BUJO

Telat publish, harusnya kemarin kan ya....🤔
Kan malam minggunya kemaren
Ah, tapi nggak papa

Cusss langsung baca aja biar nggak ada basa basi yang suka basi....👇

Sekali bikin cerita, eh, ketagihan nggak mau berhenti. Nonstop deh nonstop...😁
Kayak obat nyamuk

 (Lah... Itu pembukaan juga udah basi)

Via. We heart it


BUJO

Dalam cinta, kesetiaan adalah hal yang penting.

Aku tahu itu, karena itu pula aku selalu berusaha mencintai satu orang seumur hidupku.

Jonathan saputra,

Adalah satu-satunya pria yang mengisi kehidupanku selama 8 tahun ini. Kami pertama bertemu di kampus ketika masa ospek.

Waktu itu dia berulah dengan tidak memakai atribut yang seharusnya dipakai. Jo dihukum push up dan lari mengelilingi lapangan kampus yang luas sebanyak 10 kali.
Keesokan harinya Jo masih tidak kapok. Ia berangkat ke kampus dengan seragam sma lengkap tanpa atribut satu pun. Semua orang geleng-geleng dengan perbuatannya dan kedua kalinya juga jo mendapat hukuman yang sama. Diam-diam aku sering memperhatikannya, aku penasaran sekali kenapa dia mengulang kesalahan yang sama?

Di hari ke tiga ospek ketika jo sedang menjalani hukuman ketiganya aku sedang terburu-buru ke toilet dan tak sengaja bertabrakan dengan jo. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku yang sudah tersungkur.

  "Maaf...." katanya,

Aku menyambut uluran tangannya. Sebuah tangan yang kuat dan hangat.

Memalukan sekali karena aku tak juga melepas tangaku tanpa sadar. Jo melirik tangan kami yang masih bertaut, begitu pun aku. Aku tersadar dan menariknya. Tapi Jo menahannya dan dengan senyum ramah dia memperkenalkan dirinya.

  "Jonathan saputra, kau?"

Aku tergagap menyebutkan namaku, "pu-tri."

  "Wow, putri? Nama yang bagus, cocok untukmu"

Ya, itu sudah 8 tahun yang lalu.

Setelah lulus dari kuliah. Kami masih sering berhubungan, aku dan jo beberapa kali pergi jalan bersama, lebih sering hanya kami berdua. Sungguh saat-saat yang menyenangkan bisa berada di samping jo, aku bukannya tidak menyadari aku sebenarnya mempunyai rasa padanya, tapi aku tak berani mengatakannya dan aku takut baginya hubungan kami hanyalah pertemanan.

Sampai suatu pagi, benar-benar pagi. Jo datang ke rumah kosku, aku begitu malu karena penampilanku yang berantakan sehabis bangun tidur. Aku sedang sibuk merapikan rambut dan menjelaskan bahwa aku baru saja bangun, ketika tiba-tiba sebuah mawar merah muncul di hadapanku, tepat di depan mataku, aku tak sanggup berkata-kata, hanya diam seperti patung.

  "Mau pacaran?" ucapnya percaya diri.

Sejak hari itu kami adalah sepasang kekasih.

Kembali ke masa sekarang.

Aku sedang duduk di salah satu kursi taman, menikmati angin sore berembus sejuk menerpa wajahku. Sore itu aku sudah janji akan menemui Jo. Kami sering pergi ke taman ini untuk menghabiskan waku bersama.

Dulu seminggu setelah pacaran jo membawaku kemari untuk berfoto dan membuat vidio. Waktu itu aku malu sekali, semua orang melihat kami sambil tersenyum-senyum geli. Aku mengajaknya untuk pergi atau duduk saja, tapi jo ngotot dan malah merekam wajahku yang sedang jengkel. Dalam vidionya itu jo mengaku bahwa dia sangat... sangat... sangat mencintaiku. Pipiku memerah mendengar perkataannya. Dan rasa malu itu berubah jadi sangat senang.

Jo punya tradisi untuk hubungan kami. Dimana ia akan selalu merayakan hari ulang tahun hubungan kami setiap minggunya, lebih tepatnya hari ulang minggu. Aku selalu tersenyum mengingatnya, dia akan membeli balon, bunga mawar. Topi besar. Dan kue yang akan kami makan bersama. Sesuatu yang sangat romantis bagiku.

Sifat jo yang humoris sekaligus lembut selalu membuatku nyaman berada di sampingnya, walau terkadang dia juga bersikap kekanak-kanakan seperti minta disuapi saat makan bersama, atau marah saat aku lupa mengucapkan "selamat tidur bujo"

Bujo, sebuah kata sekaligus panggilan sayangku untuknya, aku mengambilnya dari bahasa jawa bojo yang berarti suami, dengan harapan suatu hari nanti dia yang akan menjadi suamiku.

Doa yang indah bukan....


Bulan-bulan berikutnya berlalu dengan indah, aku semakin mencintai jo setiap harinya, terikat dengannya. Hingga cincin itu dilingkarkannya dijari manisku ketika ia melamarku.

Saat itu kami sedang makam malam di suatu kafe. Cahaya lampu kafe yang remang-remang, lilin-lilin dan musik mengalun lembut ketika kami melangkah masuk. Jo menggandeng tanganku dengan lembut, selalu mengalirkan ketenangan di dalamnya.

  "Kenapa cafe ini sepi sekali" tanyaku heran. Aku tahu cafe itu selalu ramai.
Jo ikut memandang berkeliling, seakan-akan ia juga tak tahu apapun.

  "Berarti ini akan menyenangkan" dia membalas dengan senyum lebar. Dua hari kemudian aku baru tahu kalau dia telah memesan semua meja di cafe itu.

Kami duduk di meja paling depan.
Ketika pelayan datang Jo menyebutkan daftar pesanan yang sangat banyak, aku sampai ternganga dan berpikir dia sudah memesan semua makanan di menu.

  "Siapa yang akan memakannya?" Aku bertanya.

  "Tentu saja kita."

Aku tidak yakin dengan jawabannya, tapi ketika makanan tiba perutku tidak bisa menolak aroma lezat dari makanan-makanan itu. Dan jadilah satu jam kemudian kami kekenyangan di meja kafe.


Tiba-tiba lampu padam, suasana jadi sangat gelap. Aku duduk tegak di kursiku, mencoba tenang karena aku takut gelap.

  "Ada apa? Apa listriknya bermasalah ya?"

Dan ketika lampu menyala, seperti 2 tahun lalu bunga mawar itu muncul lagi di depan wajahku. Tapi yang lebih mengejutkanku Jo meletakan sebuah cincin di tangkainya.

  "Will you marry me"

Aku terduduk di taman, tak sanggup lagi menahan air mataku. Kenangan itu rasanya belum lama terjadi. Bujoku yang sangat baik dan lucu. Aku mengusap airmataku dan menarik nafas dalam, tak seharusnya aku sedih saat akan menemuinya.
Dia pasti akan sedih juga atau malah marah, ngambek seperti anak kecil, atau mungkin memelukku sambil bilang "cup...cup... Sayang"

Sosok itu akhirnya terlihat, kepalanya berputar mencariku dan tersenyum lebar serta melambai saat mengetahui keberadaanku. Setengah berlari dia menghampiriku.
  "Maaf, aku terlambat."
  "Tidak masalah" aku mengulas senyum

Kami pun melangkah meninggalkan taman itu.

Mobilnya bergerak perlahan di jalan raya, aku hanya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan. Beberapa kali ia mengajakku bicara dan memancingku untuk tertawa, ya, aku juga berusaha menanggapi semua perkataannya meski rasanya sangat hambar.

Ketika mobil mulai melambat, rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Ia turun dari mobil dan membukan pintu untukku.
  "Ayo."
Aku menyambut uluran tangannya, dia menuntunku melewati rumput-rumput hijau dan aroma bunga yang tercium sejak kami sampai. Aku berusaha keras mematikan perasaanku seperti beberapa bulan ini. Kenapa aku harus menemui Jo di sini?
Kenyataannya, begitu kami berhenti. Aku terjatuh dan menagis tanpa bisa kutahan. Aku sangat merindukan Jo, sangat... sangat merindukannya. Kupeluk pusara itu seperti memeluk Jo.
Seharusnya kami sudah menikah sekarang. Kenyataan bahwa Jo sudah meninggal begitu menghancurkan kehidupanku. Semuanya terjadi tiba-tiba. Kami hanya pergi sebentar untuk membeli kue ulang tahun nenek, sayangnya kecelakaan itu terjadi. Jo meninggal dan aku koma di rumah sakit selama 2 bulan. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke makamnya.

  "Bujo" aku bergumam di sela tangisanku.
Randy menyentuh bahuku, aku tahu dia juga sangat terpukul dengan kepergian kakaknya.

Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melihatnya lagi. Bujoku telah pergi dan aku ada di sini.

End.

Cup..cup... Jangan nangis ya put, mungkin nggak jodoh di dunia tapi jodoh di akhirat, biar abadi dan hidup bahagia selamanya.
Bantuin hibur putri dong sob...

Entah kenapa saya kok suka bikin cerita sad ending gini.
Nggak kasihan apa sama tokohnya.....


Semoga cerita kali ini menghibur sobat semua ya, walaupun ceritanya sedih tapi lumayan lah buat ngisi waktu senggang sembari nunggu doi yang nggak dateng-dateng buat malam mingguan.

Happy malam minggu.

Salam dari penulis amatir yang malam minggunya cuma nonton tv sama buka medsos, plus nyemil gorengan yang bikin gagal diet dan gangguin kucing yang lagi tidur.

See you👋👋👋


Friday, April 19, 2019

Cinta Ma, Tina

Cinta Ma, Tina

Saya come back....

😁😁

Saya pernah bilang kalau saya pengen jadi penulis sejak kecil, tapi belum kesampaian sampai sekarang. Pernah juga saya kirim cerpen ke majalah tapi sampai hampir setahun kagak ada kabar...😞

Jadi daripada mubadzir saya bagi oret-oretan saya di sini ya.

Selamat membaca😊

Via.pixabay

Cinta ma,Tina

Tina menatap bayangan dirinya di cermin tua itu. Sudah hampir satu jam berlalu ia mencoba mencari di mata letak kecantikannya. Dan selama satu jam itu tahulah dia kenapa semua lelaki menolaknya. Dia terlalu jelek, tak cukup cantik seperti gadis-gadis lain, tak pandai berdandan atau memakai pakaian yang bagus.

Perlahan tangannya bergerak menyisir rambutnya yang kusut, sudah 3 hari ia tak menyisirnya. Bayangan di cermin itu mengikuti gerakannya. Tina menangis, air matanya mengalir dengan pelan tanpa suara.

Tak apa jika semua lelaki mengejek dan tak menganggapnya wanita, ya tak apa jika mereka membenci tanda hitam yang terpampang jelas di pipi kirinya karena ia sendiri juga membencinya. Tapi Tina hanya ingin satu orang.

Rio.

Ia sudah berusaha dekat dengan dengan pria itu selama 2 tahun ini. Meski awalnya Rio juga tak mengangggapnya seperti kebanyakan orang, tapi setelah 5 bulan terlewat di organisasi yang sama mereka bisa jadi teman.

Sering kali Tina membantu Rio mengerjakan tugas-tugas kampusnya.
Waktu mereka semakin dekat Tina mulai mendegar gosip soal beauty and the beast terbalik. Telinganya panas karena omongan teman-teman di kampusnya, mereka tak tahu bagaimana usaha Tina untuk dekat dengan Rio, mereka tak tahu seberapa besar cintanya pada Rio.

Untungnya Rio tak berubah dengan adanya gosip itu. Ia tetap meminta bantuan Tina untuk mengerjakan tugas kampusnya. Tina merasa bahwa Rio mungkin mulai peduli padanya, ia begitu bersemangat mondar-mandir hanya demi membantu semua pekerjaan Rio.

Sejauh itu semua berjalan lancar, Tina juga tahu Rio belum punya kekasih. Entah apa sebabnya, padahal Rio bukan pria cupu dan tak pandai bergaul, sebaliknya, semua anak di kampus mengenal siapa Rio.
Dia lelaki yang sangat menawan, yang di mata Tina selalu terlihat berkilauan.

Dan Tina sangat bahagia karena ia bisa jadi satu-satunya wanita yang paling sering berada di dekat Rio.

  "Tin, ntar sore bantu ngerjain tugas kuliah ya, ketemu di kafe biasa." Kata Rio suatu siang. Semua mata memandang mereka berdua, menyebar omongan-omongan kasar dan curiga. Tina tak mau memperdulikannya, ia memasang senyum terbaiknya.

  "Baiklah"

Hatinya masih bersorak sampai sosok Rio keluar dari katin. Ia menikmati makan siangnya dengan lebih cepat. Suara tawa para gadis terdengar begitu ramai di belakangnya, bisik-bisik mereka jelas melibatkan nama Tina di dalamnya. Tapi tina tak menggubrisnya, ia segera beranjak meninggalkan kantin. Jauh di dalam hatinya ia ingin menagis mendengar semua berita buruk tentang dirinya. Kenapa tak ada seorang temanpun untuknya? Ia juga ingin berbagi cerita, juga mendengarkan curhatan seseorang.


Tahun-tahun terakhir di kampus menjadi masa paling sibuk bagi Tina, ia harus menyusun skripsinya dan juga tetap membantu Rio dengan tugas kuliah yang sekarang bertambah makin banyak. Ia dan Rio memang terpaut satu tahun.

Tina merasa lelah, ia hanya mendapat 4 jam tidur dalam sehari, seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal. Tapi Rio selalu berhasil menarik semangatnya lagi, meski hanya dengan melihat senyumnya tina bisa mendapat efek yang luar biasa. Baginya Rio adalah segala-galanya. Tujuan hidup dan cita-citanya. Ia yakin sekali Rio tercipta untuk dirinya seorang, cinta matinya.

Sampai suatu hari...

  "Sayang lah kalau dibuang, kan ada fungsinya itu cewek, lumayan buat bantu-bantu tugas kuliah."

Deg, jantung tina serasa berhenti saat itu juga. Ia mematung di tempatnya, tak bisa bergerak sedikitpun. Seperti itukah perasaan Rio sebenarnya? Itu bukan cinta.

Tina berusaha keras berpindah dari tempatnya, terseok-seok menuju kamar mandi dengan mata buram karena air mata. Perkataan Rio barusan menyadarkan sekaligus menamparnya dengan keras. Ia menangis seharian penuh di bilik kamar mandi. Harapan satu-satunya soal cinta yang tak pernah ia miliki sudah pupus, ia salah menilai, salah berusaha. Rasanya luar biasa sakit.

  "Tolong aku, Rio" tapi bahkan ketila ia merasa tersakiti oleh Rio, hanya nama itu yang bisa ia sebut.

Tina bertekad untuk melupakan Rio, tapi ketika ia melihat Rio di kampus dan pria iu menyapanya, Tina tahu ia tidak bisa, ia masih berharap pada Rio sebesar apapun sakit hatinya pada pria itu.

Pikirannya mulai melupakan kejadian itu. Mukin ketika itu Rio hanya mau melindunginya dengan pura-pura menjauh seperti banyak orang. apapun alasannya Tina tak mengingatnya lagi begitu bertemu Rio.

3 bulan setelah itu. Tepat seminggu sebelum kelulusan, tina melihat Rio sedang bermesraaan dengan seorang prempuan di suatu kafe, untuk ke dua kalinya Ia merasa dikhianati. Siapa prempuan itu, bukankah Rio tak punya kekasih.

Tak ingin pikiran itu terus mengganggunya dan takut ia hanya salah paham. Sore itu tina memberanikan dirinya untuk bertanya langsung pada Rio.

  "Gadis, yang di kafe bersamamu itu siapa?    "Tanyanya terbata, berharap Dugaannya salah.
Rio terpaku sesaat, ia tahu Tina menyukainya tapi ia sama sekali tak menyukai gadis itu.

  "Gadis?" Matanya berputar, mencoba mencari jawaban yang tepat.

  "Ya, aku melihat kalian kemarin."
  "Sungguh?"
  "Siapa dia?"
  "Itu, pacarku." Tak ada gunanya menyembunyikan kenyataan itu lama-lama. Tina harus menerimanya cepat atau lambat.

  "Maafkan aku Tina, aku tahu kau menyukaiku sejak lama, tapi aku dan gadis itu... kami sudah berhubungan jauh sebelum kau mengenalku"

Kemarahan memenuhi benak Tina, lalu untuk apa selama ini semua usahanya, apa artinya ia bagi Rio. apa arti semua perhatian itu? Kenapa dunia begitu tidak adil.
Tanpa mengucapkan apapun tina meninggalkan Rio dan tak menemui pria itu lagi.
Tapi apapun yang terjadi Tina masih mencintai Rio, ia tak menginginkan pria lain, tak mau hal lain selain Rio. Ia menangis dan menjerit di kamarnya, merasa bahwa kehidupan begitu membencinya sampai ia tak diberi kesempatan untuk sebuah cinta.

Tidak, jika dunia tidak memberiku keadilan, aku akan membuatnya sendiri.

3 hari kemudian tiba-tiba Rio tidak datang ke kampus. Pertanyaan dan gosip beredar di mana-mana. Karena Sampai hari kelulusan tiba Rio juga tak bisa di hubungi atau di temui. Padahal rencananya dia akan jadi MC nya.

Tina hanya mendengar semua gosip itu dengan diam, kesedihan terpancar di matanya. Hampir setiap saat matanya tampak merah dan sayu.

  "Kurasa dia gila, Rio pergi tanpa pamit pasti untuk menghindarinya"
Rasanya panas, Tina mengepalkan tangannya.
  "Kau tak tahu apapun, kalian tak tahu apapun" gumamnya berulang kali.
Setelah hari kelulusan berlalu Tina mulai mengurung diri di dalam rumah kosnya, setiap hari menatap cermin tua di kamarnya dalam diam dan ia akan menagis.

  "Aku tahu kau pasti akan jadi milikku"

Tina menghela nafas panjang, menyisir rambur kusutnya dengan susah payah, lalu dipolesnya pipinya dengam bedak, tak mampu menyembunyikan tanda hitam di pipi itu. dan terakhir ia memakai lipstik merah. Sekali lagi ia menatap cermin dengan cermat.
Tina berbalik dan melangkah menuju pintu terkunci di dalam kamar kosnya. Bau anyir tercium begitu pintu di buka, lampu menyala, ia berjalan ke arah ranjang tanpa kasur itu.
Sesaat ia mematung memandanginya, lalu ia terduduk.
  "Selamat pagi Rio"

End.


😥😥😥
Apakah itu yang dinamakan cinta mati, harus dijaga sampai mati, jangan sampai ke lain hati nanti jadinya patah hati.

Syeremm banget

Sebenernya cerita itu udah pernah saya edit tapi berhubung si lapi lagi rusak (hua...
😭😭) makannya nggak terlalu lengkap.

See you.....
(Agak loyo, karena si lapi)

Wednesday, March 20, 2019

Bukan travell blogger, edisi “Nongko Ijo"

Bukan travell blogger, edisi “Nongko Ijo"

Bukan travell blogger, edisi “Nongko Ijo”


Akhirnya setelah menunggu sekian lama. Macam lagunya ridho roma
Sekian lama aku menunggu…🎤

Bisa liburan juga

Yee…. tepok tangan👏👏

Kemarin, minggu, 17 maret 2019 saya dan 3 teman saya dengan inisial Galuh, Yanti dan Dila  ( itu namaya inisial🙄?) memutuskan buat berlibur ke Nongko ijo, sebuah hutan wisata di daerah kare.

Semangat banget rasanya, bosan juga kan tiap hari Cuma lihat sepatu mahal di pabrik tapi nggak bisa beli (cuhat dong ma😄)

Sebenernya saya sudah beberapa kali ke sana, tapi nggak tahu kenapa dari sekian banyak tempat wisata di puncak gunung sono, saya paling suka di Nongko ijo ini. ada kesan tersendiri selain nyaman dan sejuk, mungkin karena liburan pertama saya dulu setelah lulus sekolah adalah di sini.

Kenapa namanya nongko ijo ya, padahal setahu saya nggak ada pohon nangkanya lho, isinya pohon pinus semua🤔.

Sayang banget saya nggak nanya sama…
Sama siapa ya kalau mau nanya?
Ah, pokoknya liburan aja….

Saya berangkat dari rumah sekitar jam setengah sepuluh pagi.
Kok siang banget? Soalnya bisa dibilang ini liburan dadakan, rencananya nggak jadi liburan, tapi ternyata temen-temen butuh repreching juga (bahasa apaan tuh🤔?)

Kikikikik😆

Rencananya juga rame-rame tapi yang lain lagi nggak bisa ikutan.

Yang absen sakit, semoga lekas sembuh ya....
Yang sepedanya dipinjem tetangga, semoga nggak dibawa kabur ya😂

Sebelum berangkat itu saya juga mesti kelarin kewajiban hari libur dulu, cuci baju pastinya.
Karena efek cepet-cepet mungkin nggak bersih-bersih banget, secara saya nyucinya, sambil lari-larian teriak,

"Wah… kudu cepet-cepet selak dolan"
Translate : wah, harus cepet-cepet keburu main"

Tuangkan air, detergen, hempaskan pakaian ke bak, kucek-kucek dikit, bilas, jemur, kelar udah😌

jangan ditiru sob, kebiasaan jelek saya nggak bisa tenang, grusa grusu terus.

Setelah mandi dan siap-siap saya pun otw. Perlu waktu setengah jam dari rumah saya supaya bisa sampai di tempat janjian kami, melewati naik turun, belak beloknya jalan menuju nongko ijo... sumpah bikin saya kacian sama sepeda saya….

Maapkan aku ya dah….😟

Untungnya kali itu temen-temen saya nggak pada ngaret, biasanya saya dulu yang harus nunggu, dan luar biasa karena mereka nyampe duluan.

Singkat cerita akhirnya saya dan teman-teman meluncur ke tempat tujuan, saya sempet senyam-senyum sepanjang jalan, rasanya tenang dan seneng aja bisa menghirup udara yang seger banget sambil lihat pemandangan gunung dari deket, damai banget, di moment kayak gitu saya selalu pengen merem, tapi bahaya….

Seriusan, saya suka pengen merem kalau lagi nyetir.


Sebelum masuk, kita akan disambut oleh gapura bertuliskan

"Selamat datang wisata hutan pinus nongko ijo" 

Terussssss masuk lagi sampai tempat parkir, di sini tempat kita bisa beli karcisnya.
Tenang masih murah meriah… cukup 5 rebon untuk satu orang sudah termasuk parkirnya, enak nggak tuh

Di sini ada semacam gapura lagi.


Menyempatkan foto juga sebelum ngadem di dalam… kayaknya waktu itu kami rame banget kayak anak-anak kecil lagi tamasya wkwkwk…  untung masih sepi, biasanya kalau makin siang pengunjungnya makin rame….


Kebetulan juga temen saya hapenya baru, nah lengkap kan bisa buat foto-foto sampe puas.

Jadi saya haturkan trimakasih buat saudari Yanti yang udah bersedia menjadi photografer jadi-jadian😁

jangan ngadep depan,  eh nengok dikit, itu mata dikondisikan dong, ngguyune ojo ombo-ombo…

Wkwk… totalitas bener👍


Selanjutnya yang kami lakukan adalah naik ke rumah pohon, faforit saya nih,,, dimana-mana kalau ada rumah pohon saya pengen banget naik. Biar berasa lebih tinggi gitu, bosen juga pendek melulu.
Ada kisah dan perjuangan di balik acara naik rumah pohon ini


Lebay....

Ya karena udah lama nggak naik tangga jadinya agak repot juga, tapi tetep berhasil nyampe atas, dan selfi-selfi lagi
Wah.. anak jaman sekarang ngapain aja harus selfi dulu, biar bisa
"Update status, mau foto di rumah pohon aja ribet banget"

Cekacekaceka...

Jadi kayaknya liburan ini selfi aja isinya, jalan 3 meter stop selfi, jalan lagi, 3 meter stop selfi lagi.

Di Nongko ijo ini biasanya banyak orang lagi pacaran, buat yang jomblo atau baru putus cinta  dan sensi abis mungkin  nggak cocok ke sini

Lah, situ kan juga jomblo👆😂

Iya ya, ha..ha.., tapi saya mah nggak sensi, happy aja kok, kan saya single bukan jomplo

Sama aja mblo😑

Eh, saya dikatain jompo😡

Jomblo😠

Baru kali ini, tulisan bisa bikin budek.


Tuh kan… tempat ini tuh, ijooooooooooooooo banget, ademmmmm banget. Sangat cocok buat menenangkan diri. Jadi inget dulu saya juga sempet ke nongko ijo buat pengajian he.. he...

Pengajian di tempat semacam ini tuh asyik banget, karena alam bisa mengingatkan kita betapa indahnya ciptaan allah, udara yang bersih, dan suasananya bikin kita bersyukur dan intropeksi diri.

Lihatlah pegunungan itu, awan awan yang menyentuk pucuk pepohonan, hijaunya alam, suara sungai yang bernyanyi dan ketenangan yang membasuh pikiranmu yang penat

Aelah... puitis juga
Betul jamaah…
Betul… betul... betul....

Eh, jamaahnya upin ipin?😲


Setelah turun dari rumah pohon dengan drama bingung cara turunnya kami berempat lanjut mau ke sungai, tapi sayangnya cuacanya agak mendung, jadi karena takut ada banjir kami nggak turun sampai bawah, Cuma jalan-jalan cari spot buat…
Selfi

(Duh, selfi kok dipanggilin terus sih kak🙎)


Di bawah ternyata, lebih banyak orang pacaran…. Tapi kita mah selow aja….., bikin kehebohan sendiri,  ya kali bikin heboh pacar orang, bisa berabe entar.

Sebentar, capek nulis, nonton film dulu ah….
Tik..tok...tik...tok....

Setengah jam kemudian

Kelar nonton film yang bikin nangis, lanjut lagi

Lelah keliling ala traveller sejati kita putuskan buat makan siang, di sini juga banyak banget tempat makannya, udah kayak pemukiman penduduk, tinggal pilih mau makan di mana, cuman ya… menunya hampir sama semua kayaknya.
Mi goreng, mi kuah, nasi pecel, dkk

Kita ngobrol-ngobrol sambil nunggu pesenan nasi goreng dan nasi pecel, padahal paginya saya udah sarapan pecel lho, eh dolan kok yo mesennya pecel lagi. Alhamdulilah kenyang perut saya, bahkan saya nambah lagi, sisanya temen saya yang nggak abis saya embat juga, yah kan biar nggak mubazir.


Pantesan badan nggak kurus-kurus….

Cuaca sempat cerah sebentar tapi habis itu ternyata mendung lagi, karena rumah para kawan saya itu jauh di kota jadi mereka khawatir kalau kehujanan, apalagi besoknya sudah mulai kerja lembur lagi, (kuatkan hamba ya allah) mereka pun berencana mau langsung pulang, tapi sebelum itu buat kenangan terakhir

Eh serem amat kenangan terakhir😥

Kita foto lagi di spot yang lain,


Eh, Lucu ada rumah dari jerami ala orang papua gitu, apa sih namanya, kita foto di sana juga.

Lanjut foto di tempat ini…


Tulisannya aja "I love you" tapi yang foto masih pada sendiri, padahal itu di samping kanan kirinya, di atas rumah pohon isinya orang pacaran semua lho wkwk…😂

Tak apa kawan kita tetep happy kan.

Karena udah makin siang kita dengan berat hati meningalkan Nongko ijo, sumpah berat banget, bolak balik bilang
  Mantok ki… mantok ki…
Hadeh....


Semoga lain kali bisa liburan rame-rame lagi

See you....

Monday, February 4, 2019

9 motivasi sukses yang nyeleneh

9 motivasi sukses yang nyeleneh

9 motivasi sukses yang nyeleneh


Via.pixabay

Sukses?

Hem, saya sering berangan-angan kalau saya akan  jadi orang sukses suatu hari nanti. Dimana hidup saya jadi lebih nyaman dari sekarang, dimana apa yang saya inginkan bisa terpenuhi dengan mudah. Pasti kalian semua juga begitu kan sob. Iya lah, siapa yang nggak mau sukses....
Sayangnya di zaman sekarang ini, meraih kata sukses itu seperti mencoba mengurung angin, (ceileh bahasanya wkwkwwk😂...)

Susah sob

Meskipun begitu, sukses masih jadi tujuan saya, tepatnya sukses akan hal yang saya suka.
Dan ngomongin soal sukses pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya motivasi. Iya kan... Iya dong...
Kalau saya pribadi, punya beberapa motivasi yang beberapa diantaranya agak aneh hi..hi..saya bagi ke sobat semua siapa tahu menginspirasi.

1. Biar bisa tidur sepuasnya

Via.pixabay

jadi, saya ini karyawan di sebuah pabrik sepatu, jika orderan lagi ramai-ramainya. Nggak ada yang namanya nikmat hari libur.  Kerja dari pagi sampe malem. Hidup isinya cuma bangun-kerja-pulang-tidur.

(Ya, namanya juga kerja neng...)

Terus seperti itu, tidur pun cuma beberapa jam.
Pokoknya capek banget buat saya yang suka ngeluh ini. Kalau lagi kerja bawaannya kangen kasur di rumah melulu.
Apalagi pas bulan puasa, sa Allah, sambil mandi pun mata ini masih terpejam lho.

Nah karena hal itulah saya berambisi, akan jadi orang sukses dengan pekerjaan impian saya, supaya saya bisa tidur kapan aja, dan kerja kapan aja juga. Emang ada kayak gitu?

Hi...hi... Nggak tahu juga, pokoknya itu salah satu motivasi saya.😁

2. Beribadah lebih tenang

Via.pixabay

(Duh adeknya ucul banget sih, kagak ada yang bangunin apa...)

Huft, tahu nih. Kalau lagi banyak masalah atau capek karena pekerjaan saya jadi sering lalai sama ibadah. Virus setan menyebar dengan cepat kalau badan kecapekan. Saya sadar dan ingin memperbaiki diri, tapi entah saya yang emang salah (terjerumus bujukan syaiton) waduh serem banget😱

atau tebakan terbesar saya karena capek saya masih sering lalai. Alhasil, itu membuat saya berkata pada diri sendiri

"Nak aku sukses mesti sholatku ki ora bolong-bolong"

Translatenya hi..hi...

"kalau saya sukses, sholat pasti teratur nggak bolong-bolong kayak lap dapurnya emak" he..he... Lupakan lap dapurnya.

Tapi jangan ditiru ya sob karena seharusnya ibadah nggak dipatok dari kesuksesan atau capek nggak capek.
Ingat kata ini.

"Biar lelahmu jadi lilah"

3. ingin lebih dari mereka

Via.pixabay

Mereka yang saya maksud di sini banyak banget. Bisa orang di dalam mobil yang nggak kelihatan mukaknya, rumah gede di pinggir jalan, bos-bos besar di tempat kerja saya, bahkan tokoh dalam film yang saya tonton.

Pokoknya yang bikin saya ngiri. Tapi ngiri yang bawa semangat positip.
Saya sering bilang hal-hal kayak gini.

  "Liat aja, suatu hati nanti saya bakal punya mobil kayak gitu, bakal punya rumah kayak gitu, bakal lebih sukses dari bos-bos besar itu."

Kedengeran nggak masuk akal banget sih, mimpi yang ketinggian, entar kalau jatoh sakit lho.

Ya emang, tapi berkhayalpun juga udah bikin sakit kok, apalagi kalau nggak ada usaha buat bikin khayalan jadi kenyataan.

Walaupun sekarang masih berada di titik paling rendah, masih jadi sketsa yang nggak kelihatan bentuknya, masih dipandang sebelah mata. Tapi saya punya impian yang akan saya wujudkan. Dan insyaallah akan jadi kenyataan, insyaallah.
amien...
Aminnin dong sob...
Amien.

4. Bisa lebih dihargai orang

Via.pixabay

Ya emang bener, nggak perlu jadi kaya supaya bisa dihargai orang.

Cukup dengan sikap dan prilaku yang baik, orang akan menghargai kita. Tapi itu cuma setengahnya, setengahnya lagi orang akan tetep lebih dihargai kalau punya segalanya
Bukan maksud materialistis ya, tapi zaman now ini, uang adalah hal pertama yang jadi jalan keluar saat kesusahan.

Paham maksud saya kan....

Saya tidak lahir di keluarga kaya raya, sebaliknya keluarga saya sederhana sekali adakalanya kekurangan, dan semenjak saya kecil saya tahu beberapa orang tak terlalu menghargai keluarga kebanggaan saya. Mungkin karena itulah saya berjanji bahwa saya akan jadi sopir yang bawa kehormatan tinggi di keluarga ini.

Bukan buat saya pribadi, tapi buat orang-orang yang saya sayangi.


5. Bukan cuma omong kosong

Via.pixabay

Saya ini tipe orang yang cari motivasi dengan berkoar-koar, saya suka bicara pada orang lain tentang cita-cita dan impian besar saya yang kedengaran mustahil untuk diwudkan seorang astri 

(kenal astri nggak? Nama saya sob😩, masak belom kenal sih)

kadang kalau lagi kumpul sama teman-teman saya suka bilang "lihat ya beberapa tahun lagi, saya bakal jadi orang sukses, lihat ya besok saya bakal pergi ke Jepang"
Nah, tuh, emang nyebelin kan saya.
Saya takut juga kalau semuanya gagal dan cuma jadi omong kosong doang.


No...no... Saya nggak mau, jadi saya berusaha untuk tetap konsisten meraih mimpi saya ini, berusaha untuk tetep semangat biarpun nggak ada yang percaya. Supaya apa? Supaya nggak jadi si tukang omong doang, si tukang boong.

6. Nggak mau bernasib biasa

Via.pixabay

(Tempat faforit saya tuh👆....)

Saya memang hanya manusia biasa bukan manusia super. He..he...

Asli orang madiun, itulah saya. Tinggal di desa yang bahkan masih jauh dari kota madiun, dan jarang banget juga maen ke madiun.

Kebanyakan orang di desa saya kerjanya ya jadi petani, orangtua saya juga begitu. Wanitanya jadi emak-emak rumah tangga. Ngurus anak, dapur, rumah, kadang juga kerja di sawah buat nambah uang belanja. Itu semua adalah pekerjaan yang sangat mulia, yang besar pahalanya. Saya sebenarnya nggak masalah dengan semua itu.

Saya bisa sekolah sampai SmK pun juga karena orangtua saya begitu, tapi saya berpikir saya mau jadi orang yang lebih baik, punya pekerjaan yang saya sukai dan jadi wanita karir. Saya kepengen punya cerita yang luar biasa tentang hidup saya, yang mungkin saja bisa menginspirasi beberapa orang.
Amien..

Jadi plis jangan ada yang nyuruh buat buru-buru nikah ya🙏

7. Punya rumah idaman

Via.pixabay

Bukan rumah bertingkat yang wah, kayak di tv-tv tapi kalau bisa begitu ya alhamulilah
He.. He...😁

Saya kepengennya rumah yang saya banget, yang beberapa bagiannya hasil imajinasi saya gitu.
Jujur, saya suka banget nggambar atau desain sesuatu. Kadang saya bayangin pengen punya rumah yang full seni, berseni lah pokoknya, artistik gitu, ada perpusnya, mushola, kolam, ruang kerja pribadi, taman yang indah. (Wkwk... Banyak banget, ngarep banget lagi.)

Tapi ndak apa-apa tow, siapa tahu doa ini bisa terwujud😁😊

8. Bisa banyak bantu-bantu

Via.pixabay

Pergi kemanapun saya, mata ini nggak bisa berhenti jelalatan. Makannya suka nggak fokus nyetir.
Saya itu suka banget merhatiin kegiatan di sekitar saya, lihat orang-orang yang mau berangkat kerja juga, habis belanja dari pasar, jualan di pinggir jalan, olahraga. Saya suka senyum sendiri melihat hal-hal seperti itu, apalagi lihat anak-anak, kakak adek berangkat sekolah, rasanya damai gimana gitu.

Tapi Nggak jarang juga saya nemu pemandangan yang bikin hati kecil saya otomatis berdoa "ya Allah beri dia rezeki yang banyak dan halal hari ini dan seterusnya"
Atau lihat anak kecil ngamen, balita yang dibawa ibunya buat ngamen juga.
Saya berharap mereka punya masa depan yang indah. Sedih melihat mereka berada di antara mobil-mobil mewah dengan pakaian lusuh. Berasa hidup nggak adil buat mereka.

Saya pikir jika saya sukses saya bisa sering berhenti buat bantu mereka, hal yang sering saya bayangin sejak dulu.

9. Travelling

Via.pixabay

Ini nih yang sering dibayangin, saya pengen banget diberi kesempatan buat travelling ke tempat-tempat yang saya suka. Mulai dari dalam negeri sampai luar negeri.

Tapi gimana mo travelling wong (duitnya belom ada mak....)
Hua....😭

Jadi travelling pun jadi harapan saya.
Semoga anak ndeso ini bisa pergi ke luar negeri buat jalan-jalan ya😁
Biar bisa lihat salju gitu lho.


Itulah motivasi sukses saya, mungkin beda sama sobat semua ya. Atau adakah yang sama?
Beda atau pun sama semoga kita bisa sama-sama sukses
Ganbatte kudasai💪

Artikel ini sebenernya udah lama saya simpen, cuman nggak dipublish-publish.
Kenapa? Karena sebenernya saya takut dihakimi, takut juga jadi unfaedah.

Jangan dong sob,
Masak saya dikatain materialistis, dikatain sok bijak.

Nangis guling-guling nih entar😭

Yang pasti semua motivasi di atas, timbul karena hal-hal yang terjadi di sekitar saya. Yang pasti kalau saya berhasil, saya kasih keberhasilan ini buat ayah dan bunda (ha..ha... Biasanya juga panggil emak dan bapak),

Saya mau bilang, "perjuangan kalian buat nyekolahin saya nggak pernah sia-sia'

Dan yang pasti, semoga yang belum pasti bisa jadi sebuah kepastian.
Amin...

See you...


Monday, December 24, 2018

Wkwk… memory masa kecil

Wkwk… memory masa kecil

Wkwk… memory masa kecil


Via.pixabay

udah siang lho ini, jam 12, tapi kok berasa masih pagi aja, atau malah berasa udah sore. Pokoknya jam sama suasananya nggak sinkron.

(Padahal publishnya kapan...)

padahal ini hari minggu lho… saya baru kelar cuci baju, beresin kamar, makan nasi, pakai sambel, tempe, oseng kangkung buatan emak tercinta trus makan pisang juga, udah abis 4 pisang kayaknya.

ampun dah, katanya mau kurus, tapi banyak bener makannya.😠

Inilah yang disebut keinginan bukan kebutuhan. Ckck…

Saat nulis ini saya lagi dengerin lagunya abang ariel noah sama iwan fals yang judulnya “yang terlupakan” ditemani gerimis di suasana yang saya bilang nggak sinkron, whatsapp sepi, intenet lemot, hufft kebiasaan.
Kebiasaanya kaum single😹😹
Yach, diketawain kucing.

Tiba-tiba saja he..he… (ketawa dulu😁) saya ingat beberapa hal di masa kecil saya. Pasti sobat juga pernah kan berada di suatu waktu yang rasa dan suasananya itu kayaknya udah pernah terjadi bertahun-tahun silam. Dejavu, mungkinkah ini dejavu😮.. nggak lah…
Atau mungkin dejaim, dejambu…😱
Serah lah….😑

Saya Cuma ingat beberapa hal sederhana yang justru nggak terlupakan di masa kecil saya.
Mungkin kamu nggak tertarik, saya ambilin tali buat narik.
Krik...

CARAKU PAKAI BAJU



Via.pixabay

Saya inget ketika kecil saya punya baju kodok warna coklat luntur, warna apaan tuh, pokoknya kayak coklat tapi nggak coklat banget. Baju kodok itu pemberian dari seseorang, lupa saya siapa orangnya. Saya suka pakai baju itu walaupun kegedean, cuman kalau mau pipis saya pasti bingung nyopotnya ha..ha…
Waktu kecil saya emang suka dikasih baju sama orang, soalnya dulu kecil masih comel-comel, sekarang…
Jangan ditanya.😞

dan anehnya karena saya suka semua, 3 baju bisa saya pakai secara bersamaan, lho bijimane caranya?

Ya itu anehnya… kok nggak malu ya saya, pakai baju triple begitu, malah kayaknya saya seneng buanget lho dulu. Keliling di rumah, maen sama temen pakai baju kayak gitu. kebiasaan itu kayaknya  baru bener-bener musnah setelah saya masuk bangku smp dan menyadari kalau itu aneh++…
Kira-kira emak saya Inget nggak ya, betapa memalukannya anaknya dulu.


BONEKA HANTU?



Via.pixabay

Boneka jadi benda yang melekat erat dalam kenangan masa kecil saya. Masih inget gimana rupa boneka pertama saya, nggak kayak sekarang yang empuk banget, boneka masa kecil saya keras banget.
Saya juga suka banget bikin boneka sendiri yang jadi temen tidur, yang saya kasih nama, yang saya nggak bisa tidur kalau satu boneka aja ilang dan yang selalu saya cium penuh sayang sebelum dan sesudah tidur…

Ngakak, kalau ingat😂, tapi so sweet juga ya..

Suatu hari saya iseng bikin boneka dari kaos kaki bekas setelah baca tutorialnya di buku pejaran… ya ampun itu beneran kaos kaki bekas lho, jelek banget lagi. Saya bikinlah boneka itu dengan penuh semangat, jahit pakai tangan sampai ketusuk segala. Setelah semalaman bikin, taraa… jadi juga.., tapi setelah dilihat-lihat saya kok malah takut, boneka itu menjelma jadi boneka kaos kaki bekas ala hantu, matanya yang terbuat dari kancing baju hitam melotot kearah saya, bibirnya yang dari benang merah tersenyum jahat, seakan-akan saya adalah manusia yang akan jadi mangsanya, saya berjalan mundur, mengucapkan doa-doa atau entah mantra apa sambil gemetaran, dalam benak saya terbayang untuk mengeluarkan jurus seribu Bayangan yang sudah saya latih sejak jauh-jauh hari, atau  saya bisa pura-pura pingsan saja. lalu tiba-tiba tanpa aba-aba boneka itu terbang dan...

Woe... Mau nulis novel?😡
Kagak?😐
Yaudah, sadar...😡

Mode sadar

Saya udah berencana mau buang boneka itu, tapi lagi.. lagi… saya jadi kasihan sama bonekanya, akhir cerita saya bawa boneka itu ke kamar trus saya peluk tiap hari dari mau tidur sampai bangun tidur.. wkwk…
Nggak tahu kapan ilangnya, berbulan bulan kemudian atau bertahun boneka itu saya temukan tergeletak lusuh di bawah pohon mangga bekas rumah kosong yang udah lama dibongkar dekat rumah saya.
Walah.. kok serem😢

HEWAN YANG ASYEKK


Via.pixabay

Saya suka binatang dari kecil, kayak kucing, ayam dan kambing, karena 3 hewan itu yang ada di sekitaran rumah. Hewan- hewan itu saya anggap sebagai “teman yang asyekkk”, saya juga kasih nama sama semua hewan itu, seperti deretan kambing saya yang bernama, kite, mona, moni, toti, cemplok, dan lain-lain yang terlupakan.
Saking sukanya saya, itu kambimg sering saya gendong, diajak dansa, dan diajak kejar-kejaran, begitu juga dengan kucing, nggak ada tuh yang namanya jijik atau takut, malah saya suka.. saya suka…
Dan tiap kali ada kambing yang dijual atau disembelih saya pasti nangis, berasa kehilangan banget. Ada kejadian dimana kambing kesayangan saya, si toti namanya, si toti ini ditemukan tewas gantung diri di kandang… heh… kok bisa…..
Mungkinkah dia frustasi

Kata bapak tebe, eh bapak saya, si toti kepleset trus jatuh ke jurang dangkal deket kandang, karena talinya masih di leher jadi ya...ya... ya... gitu saya sampai nyesel berhari-hari lho, soalnya saya sayang banget sama toti, saya urus dari kecil, saya cariin kalau ilang, saya elus-elus tiap hari,
Lah kok dia gantung diri….
Teganya...😩

Rasa suka saya sama kambing hilang setelah saya sadar kalau itu kambing bau kambing, ya namanya juga kambing,  ya kalee kambingnya bau terasi, emang sambel. Apalagi bau melati, ihh syerem
Sampai SMK pun saya masih suka nangis kalau kucing saya ilang, udah berasa kayak orang putus cinta, lihatin fotonya sambil berdoa biar cepat pulang. setelah masuk kerja barulah saya paham kenapa kucing saya, si ucil suka banget berhari hari nggak pulang kayak bang toyib, ternyata eh ternyata …
dia cari cewek… walah….ucil


Ada banyak banget kenangan yang nggak terlupakan di masa kecil saya, nggak tahu kenapa saya kok masih ingat, waktu belajar sepeda, maen si bolang sama kakak ke hutan, kali, sawah, sampai kulit gosong banget. Atau pas hujan-hujan bikin kolam renang di selokan padahal airnya kotor, kabur malem-malem buat beli kembang api dan pulangya dapat hadiah berupa sabetan kayu dari emak (itu pertama dan terakhir kalinya emak mukul saya dan kakak) dan kisah nyeleneh lainnya. duh, rasanya pengen saya bagi semua, tapi entar kepanjangan….

Biar jalan kenangan aja yang panjang, ha…ha….

Kalau sobat, kenangan apa yang paling tak terlupakan?

Sampai jumpa di artikel selanjutnya yank,
Eh…sobat-sobat tersayang maksudnya
See you….